empty
 
 
03.03.2026 12:45 AM
GBP/USD. Kekalahan Partai Buruh, Risiko Geopolitik, dan Sinyal Dovish dari Bank of England

Pound yang dipasangkan dengan dollar menyentuh level terendah dalam hampir tiga bulan di 1,3313, posisi terendah sejak 10 Desember tahun lalu. Dinamika penurunan GBP/USD terutama disebabkan oleh penguatan greenback, yang diminati sebagai aset aman di tengah meningkatnya sentimen penghindaran risiko. Peristiwa terbaru di Timur Tengah menutupi semua faktor fundamental lainnya, memungkinkan dollar yang dianggap aman mengokohkan posisinya di seluruh pasar. Pasangan GBP/USD tidak terkecuali, terlebih lagi karena perkembangan terbaru di Inggris turut memberikan tekanan tambahan pada pound.

This image is no longer relevant

Perlu diingat bahwa pekan lalu telah berlangsung pemilihan sela di daerah pemilihan Horton and Denton (Manchester) di Inggris setelah pengunduran diri MP Andrew Gwynne. Hasil pemilihan ini menjadi kejutan politik besar di Inggris. Partai Buruh secara terus-menerus memegang kursi di dapil ini sejak 1922, selama 104 tahun terakhir. Bahkan pada periode ketika partai tersebut mengalami kekalahan besar secara nasional, wilayah ini tetap berada di tangan mereka. Namun tahun ini, Partai Buruh kalah—bisa dibilang secara "spektakuler", hanya meraih 25,4% suara dan menempati urutan ketiga. Kandidat dari Green Party keluar sebagai pemenang, menandai kemenangan historis pertama partai tersebut dalam pemilihan sela parlemen.

Baru satu setengah tahun lalu, pada pemilihan umum 2024, Partai Buruh menang mutlak dengan perolehan lebih dari 50% suara. Namun di bawah kepemimpinan Keir Starmer, tingkat dukungan untuk kekuatan politik ini seperti "diatur ulang". Inilah alasan mengapa pound berada di bawah tekanan: analis mengaitkan hasil ini bukan hanya dengan meningkatnya dukungan terhadap Green, tetapi juga dengan "protest vote" dari pemilih tradisional Buruh yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah saat ini.

Ini merupakan sinyal negatif bagi mata uang Inggris karena setiap ketidakpastian politik dipandang sebagai risiko oleh pasar. Di kalangan analis, muncul kekhawatiran yang beralasan bahwa bisa saja terjadi perebutan kekuasaan di dalam tubuh Partai Buruh, yang berpotensi melumpuhkan kerja pemerintahan. Selain itu, pasar khawatir bahwa dalam upaya "merebut kembali" pemilih, Starmer dan Menteri Keuangan Rachel Reeves akan melonggarkan disiplin anggaran, meningkatkan utang, dan membahayakan stabilitas keuangan.

Faktor lain yang menekan pound adalah lemahnya data pasar tenaga kerja Inggris dan sinyal bernada dovish dari Bank of England. Perlu diingat bahwa tingkat pengangguran di Inggris naik menjadi 5,2%—level tertinggi sejak 2021, ketika negara tersebut masih dalam tahap pemulihan dari krisis virus corona. Sementara itu, tingkat pengangguran pemuda (usia 18–24 tahun) melonjak hingga 16,1%.

Jumlah klaim tunjangan pengangguran meningkat hampir 28.600—ini adalah angka tertinggi sejak musim semi 2020. Jumlah pekerja yang tercatat secara resmi turun 11.000 pada Januari dibandingkan bulan sebelumnya, yang menunjukkan bahwa pelaku usaha menjadi jauh lebih berhati-hati dalam merekrut karyawan baru. Selain itu, laju pertumbuhan upah rata-rata di sektor swasta melambat menjadi 3,4%—level terendah sejak 2020.

Data ketenagakerjaan yang lemah tersebut telah meningkatkan ekspektasi bahwa Bank of England akan mulai memangkas suku bunga tahun ini lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya. Terlebih lagi, Gubernur Bank of England Andrew Bailey dalam pidato terbarunya di hadapan Treasury Committee House of Commons menyampaikan komentar bernada dovish, dengan menyatakan bahwa perekonomian Inggris "bergerak menuju titik di mana Bank of England dapat mulai menurunkan suku bunga". Menurutnya, tidak perlu menunggu inflasi benar-benar tepat mencapai target 2% jika proyeksi dengan meyakinkan menunjukkan penurunan lebih lanjut.

Penting untuk dicatat bahwa indikator utama inflasi di Inggris memang tengah menurun. Secara khusus, indeks harga konsumen umum turun secara bulanan menjadi -0,5% (level terendah dalam beberapa tahun), sementara secara tahunan turun menjadi 3,0% (laju pertumbuhan terendah sejak Maret tahun lalu). Indeks inti turun menjadi 3,1% (level terendah sejak September 2021), sementara indeks harga ritel turun menjadi 3,8% dari angka sebelumnya 4,2%.

Semua ini menunjukkan bahwa pasangan GBP/USD masih menyimpan potensi untuk melanjutkan pelemahan, termasuk akibat pelemahan mata uang Inggris itu sendiri. Dari sudut pandang teknikal, pada timeframe harian pasangan ini berada di antara garis tengah dan garis bawah Bollinger Bands, di bawah garis Tenkan-sen dan Kijun-sen namun masih di dalam awan Kumo. Seller telah menguji level support di 1,3360 (garis bawah indikator Bollinger Bands pada chart 4 jam), namun belum berhasil mengkonsolidasikan harga di bawah level tersebut. Pertimbangan posisi jual baru masuk akal jika kubu bear berhasil menembus penghalang harga ini. Target penurunan berikutnya berada di level 1,3300, yang bertepatan dengan garis bawah Bollinger Bands pada chart harian.

Recommended Stories

Tidak bisa bicara sekarang?
Tanyakan pertanyaan anda lewat chat.