Lihat juga
Pasangan GBP/USD menunjukkan pertumbuhan yang kuat dalam beberapa minggu terakhir, yang bisa menjadi awal dari tren bullish. Namun, saat ini pound sedang mengalami koreksi turun yang dimulai sekitar satu setengah minggu lalu dan mungkin masih berlanjut selama sekitar satu setengah minggu ke depan.
Pekan lalu, latar belakang fundamental sebenarnya tidak berlawanan dengan pound; meskipun demikian, pelaku pasar dengan posisi jual (bears) menyerang sepanjang pekan tanpa henti. Apa yang dapat diharapkan dari GBP/USD pekan ini? Segalanya akan bermuara pada dua peristiwa. Rabu malam akan diumumkan hasil rapat FOMC, sementara Kamis sore akan dirilis hasil rapat Bank of England. Keduanya berpotensi memicu peningkatan volatilitas, dan hasilnya tidak dapat diprediksi sebelumnya.
Lebih tepatnya, kemungkinan besar kedua bank sentral akan mempertahankan parameter kebijakan moneter apa adanya, tetapi para trader sangat memahami bahwa komentar atau isyarat sekecil apa pun dari Bailey atau Waller, maupun perubahan frasa apa pun di pernyataan akhir, bisa memicu pergerakan pasar yang kuat.
Untuk saat ini, pound masih tertahan dari penurunan lanjutan oleh imbalance 23. Saat ini ia tidak lagi berperan sebagai imbalance bagi para trader, melainkan sebagai zona support. Level ini sudah dua kali diuji, sehingga saya tidak mengandalkan adanya reaksi ketiga terhadap pola ini.
Senin kembali memberikan tekanan pada sterling, meskipun hari itu awalnya dimulai cukup positif bagi mata uang tersebut. Permintaan terhadap dolar AS sempat menurun ketika Iran dan AS mencoba kembali ke jalur diplomasi. Namun, hanya beberapa jam kemudian, bears kembali melanjutkan serangan mereka.
Pekan ini, harga minyak naik ke $100, dan konsekuensi dari memanasnya kembali konflik di Timur Tengah serta blokade Selat Hormuz bisa mendorong harga lebih tinggi lagi, berpotensi menuju $120. Jadi, jika skenario paling pesimistis yang terjadi, harga minyak akan terus naik dan menguji kembali tertinggi bulan Maret–Mei.
Dalam skenario tersebut, harapan akan melambatnya inflasi di AS dan Inggris akan pupus. Jika situasi berkembang sesuai skenario optimistis, harga minyak bisa kembali ke kisaran $60–70 per barel. Dalam kasus itu, pengetatan lebih lanjut oleh The Fed mungkin tidak diperlukan, sementara Bank of England saat ini tidak menghadapi persoalan inflasi tinggi yang sama. Karena itu, dolar belum bisa sepenuhnya mengandalkan sikap hawkish bank sentral sebagai faktor pendukung kuat.
Analisis grafik menunjukkan adanya pergerakan bullish yang berpotensi berlanjut. Pertanyaannya: dari level berapa?
Harga terlebih dulu melakukan "liquidity sweep" terhadap level terendah 6 April, lalu terhadap level terendah 31 Maret, setelah itu dimulailah pergerakan bullish yang baru. Mengingat dolar masih belum memiliki alasan kuat untuk membentuk tren jangka panjang dan sudah menunjukkan pertumbuhan mengesankan sepanjang 2026, saya menilai bears tidak akan mampu terus melanjutkan tekanan mereka.
Namun, untuk saat ini hanya imbalance 23 yang mampu membatasi penurunan pound. Akankah ia sanggup menahan bears untuk ketiga kalinya? Tidak harus demikian.
Latar belakang ekonomi pada hari Senin bukanlah penyebab pergerakan yang kita lihat. Di antara peristiwa yang patut dicatat, hanya laporan US Durable Goods Orders yang bisa disorot, tetapi sejak awal pekan para pelaku pasar sudah mengalihkan fokus ke faktor geopolitik. Pekan lalu pun mereka hanya memberi perhatian terbatas pada statistik ekonomi.
Emosi masih lebih mendominasi pasar dibanding penilaian yang dingin dan terukur. Trader belum memahami bagaimana perkembangan situasi di Timur Tengah, sehingga mereka enggan menarik kesimpulan terlalu cepat.
Secara keseluruhan, latar belakang fundamental masih sedemikian rupa sehingga, dalam jangka panjang, saya tidak melihat kemungkinan lain selain pelemahan dolar AS. Perang antara Iran dan AS tidak mengubah pandangan tersebut. Potensi kenaikan suku bunga The Fed pada 2026 pun tidak mengubahnya.
Faktor geopolitik membuat pasar kembali mengingat status dolar sebagai aset safe haven selama beberapa bulan, tetapi fase paling aktif dari konflik tersebut sudah terlewati. The Fed berniat menaikkan suku bunga pada 2026, yang tentu positif bagi dolar. Namun, perlu diingat bahwa pengetatan kebijakan moneter akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan melemahkan pasar tenaga kerja, sementara Kevin Warsh ditunjuk oleh Donald Trump sebagai Ketua FOMC dengan tujuan untuk melonggarkan kebijakan moneter — sesuatu yang tidak mampu diwujudkan Jerome Powell.
Karena itu, dalam pandangan saya, setiap penguatan dolar hanya bersifat sementara dan didorong oleh faktor-faktor jangka pendek.
Kalender ekonomi untuk 27 Juli memuat dua rilis yang saya anggap tidak terlalu penting. Dampak latar belakang ekonomi terhadap sentimen pasar pada hari Selasa akan lemah atau bahkan tidak terasa.
Prospek jangka panjang untuk pound tetap bullish. Setelah "liquidity sweep" dari dua swing low terbaru, bulls kembali memegang inisiatif. Namun, pound Inggris masih bisa melanjutkan penurunannya menuju level yang akan membatalkan tren bullish — 1,3007.
Untuk mewujudkan pergerakan tersebut, diperlukan sinyal bearish baru, dan saat ini sinyal itu belum muncul.
Bagi bulls, imbalance 23 saat ini berfungsi sebagai zona support kunci dan berpotensi memicu reaksi untuk ketiga kalinya.
Bagi bears, area penting berada di 1,3392–1,3415, tempat bearish imbalance 24 berada.
Karena itu, pendekatan saat ini adalah memantau pasar, mengamati perkembangan, dan menunggu terbentuknya sinyal yang jelas.